REVIEW KITAB KUNING DAN TRADISI RISET PESANTREN DI NUSANTARA

 

Intelektualisme pesantren memiliki tradisi riset yang kuat di masa lalu. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya karya-karya ulama Nusantara yang menjadi rujukan penting di Jazirah Arab. Karya-karya tersebut tidak mungkin lahir tanpa riset yang mendalam, tekun, dan panjang.

Tradisi riset pesantren perlu dihidupkan kembali agar pesantren dapat berperan secara optimal dan transformatif dalam berbagai bidang, termasuk pengetahuan, pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, dan kebudayaan. Dengan riset, pesantren dapat menjawab tantangan eksternal, mengoptimalkan potensi, melipatgandakan peran, dan memperteguh posisinya sebagai kekuatan transformatif bangsa.

Pesantren memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi keilmuan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Pesantren lebih memfokuskan pada tafaqquh fi al-din, yaitu pendalaman pengalaman, perluasan pengetahuan, dan penguasaan khazanah ajaran agama Islam.

Untuk mengembangkan tradisi riset, pesantren perlu memperkuat kajian kitab kuning. Kajian kitab kuning merupakan tradisi riset yang telah lama ada di pesantren. Melalui kajian kitab kuning, santri dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analisis, dan problem solving.

Pesantren memiliki potensi untuk menjadi pusat pengembangan ilmu, teknologi, pendidikan, dan peradaban Nusantara. Namun, potensi tersebut belum teroptimalkan karena pesantren masih belum memiliki tradisi riset yang kuat. Oleh karena itu, menghidupkan kembali tradisi riset pesantren merupakan sebuah keniscayaan sejarah.

NOMENKLATUR KHAS KITAB KUNING

Pesantren memiliki ciri khas yang paling menyolok, yaitu jaringan, silsilah, sanad, ataupun geneologi yang bersifat berkesinambungan. Hal ini yang membedakan tradisi intelektual pesantren dengan tradisi di lingkungan kampus, dan bahkan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan cara non klasikal. Pengajaran di pesantren bertumpu pada kitab-kitab kuning yang ditulis oleh para ulama besar pada abad pertengahan. Kitab-kitab tersebut, baik kitab matn, syarah, maupun hasyiyah, adalah kitab-kitab mu'tabarah dalam lingkungan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Pesantren berperan sebagai media dalam pentransmisian ilmu-ilmu keagamaan melalui pengkajian kitab-kitab turats. Penguasaan kitab-kitab turats menjadi sangat penting bagi santri, karena ia menjadi identitas kesantrian.

Pesantren telah sukses membangun tradisi agung (great tradition) dalam pengajaran agama Islam berbasis kitab-kitab klasik. Tradisi yang dikembangkan pesantren memiliki keunikan dan perbedaan jika dibandingkan dengan tradisi dari entitas Islam lainnya di Indonesia.

Pesantren memiliki peran besar dalam meneruskan tradisi keilmuan Islam klasik. Peran ini sangatlah besar, terlepas dari apakah lembaga pesantren merupakan karya budaya yang bersifat indigenous (asli) Indonesia ataukah model kelembagaan Islam yang diimpor dari Mesir.

KEUNIKAN PESANTREN SEBAGAI SUBKULTUR

Pesantren merupakan institusi pendidikan yang memiliki keunikan dan perkembangan yang dinamis. Keunikannya terletak pada tiga elemen dasar, yaitu:

1. Kepemimpinan kiai yang mandiri dan tidak terkooptasi oleh negara. Kepemimpinan kiai di pesantren didasarkan pada asas saling percaya dan ketaatan santri kepada kiainya didasarkan pada harapan untuk mendapatkan berkah.

2. Pemelihara dan pentransfer khasanah Islam klasik. Pesantren menggunakan kitab-kitab kuning sebagai sumber literaturnya.

3. Sistem nilai yang dianut pesantren merupakan refleksi dari nilai-nilai yang dibangun oleh kalangan salaf al-salih yang diderivasi dari berbagai literatur klasik. Nilai-nilai tersebut antara lain ketaatan kepada kiai, kesederhanaan, dan tolong-menolong.

Ketiga elemen tersebut menjadikan pesantren sebagai subkultur, yaitu sekelompok pola perilaku yang tetap memiliki hubungan dengan kebudayaan umum suatu masyarakat, tetapi pada bagian tertentu memiliki kekhususan yang dapat dibedakan dengan pola yang berlaku secara umum dalam masyarakat.

TRADISI RISET DI INSTITUSI PESANTREN

Pesantren memiliki tradisi self-learning yang kuat, yang diiringi dengan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, terutama Islamic studies. Hal ini menjadikan pesantren sebagai salah satu tipe pendidikan Islam yang potensial untuk menyemai semangat ilmiah dan tradisi riset pesantren.

Riset ala pesantren memiliki karakteristik yang berbeda dengan riset konvensional. Perbedaan ini berakar pada perbedaan ontologi, epistemologi, metodologi, dan aksiologi antara riset ala pesantren dengan riset konvensional.

Hingga saat ini, perguruan tinggi keislaman negeri masih dalam posisi sebagai teaching university, yang belum mampu menggarap secara komprehensif kebutuhan bangsa. Pesantren sendiri sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi research-university, karena:

  • Pesantren memiliki potensi sumber daya, jaringan, khasanah, dan kelembagaan yang kuat.
  • Pesantren menyimpan aneka pengetahuan, jejak masa lampau, dan potensi masa depan.
  • Transformasi pesantren menjadi institusi riset strategis merupakan keniscayaan sejarah.

Dalam era kontemporer, pesantren juga perlu membahas dan mengkaji materi-materi yang bersifat transformatif, seperti gender, hermeneutika, fiqh al-mar’ah, pluralisme, HAM, dan sebagainya.

Kunci pengembangan pesantren terletak pada metodologi, bahasa, manajemen, perpustakaan berbasis teknologi, dan ruh kritik, penemuan, dan penciptaan.

Oleh karena itu, menjadi penting untuk membangun tradisi riset di institusi pesantren. Hal ini penting untuk:

  • Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan berlapis-lapis.
  • Mengolah kekayaan intelektual pesantren untuk mengkontribusikan pemikiran transformatif terhadap berbagai masalah bangsa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Ilmu sebagai Pengetahuan

RESENSI BUKU "BICARA ITU ADA SENINYA

RESUME PERTEMUAN KEEMPAT