RESENSI BUKU "BICARA ITU ADA SENINYA
RESENSI BUKU
IDENTITAS BUKU
1. Judul Buku: The Secret Habits To Master Your Art Of Speaking, Bicara Itu Ada Seninya, Rahasia Komunikasi yang Efektif
2. Nama Penulis: Oh Su Hyang (Dosen & Pakar Komunikasi Terkenal di Korea Selatan)
3. Penerjemah: Asti Ningsih
4. Penyunting: Yosepha Ary Hascaryani. K
5. Penyelaras Akhir: Aprilia Wirahma
6. Desain: Aditya Ramadita
7. Penerbit: Bhuana Ilmu Komputer
8. Hak Cipta: @2016 Oh Su Hyang, @2018 Penerbit Bhuana Ilmu Komputer
9. Jumlah Halaman: 258
PRERESENSI
ASMA NADIA SAFNA (1860304232093)
Saya sudah memiliki buku ini secara online sudah lama, namun baru akhir-akhir ini saya membaca buku ini. Mengapa saya tertarik untuk membaca buku "Bicara Ada Seninya" karena topik dalam buku ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang pasti berbicara, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, pendidikan atau akademik, ataupun pekerjaan. Namun, tidak semua orang benar-benar memahami bagaimana cara berbicara yang tepat agar pesan dapat diterima dengan baik. Buku ini ada untuk menjawab persoalan tersebut dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Buku ini juga menarik karena tidak hanya membahas tentang teori saja, namun lebih ke praktik di dunia nyata.
Bab 1 berisi tentang berbicara itu bukan hanya sekadar aktivitas menyampaikan kata-kata, melainkan sebuah seni yang berpengaruh dalam kehidupan manusia. Cara seseorang berbicara itu dapat menentukan bagaimana ia dipahami, dihargai, dan diterima oleh orang lain. Dalam bab ini, pembaca diajak untuk menyadari bahwa komunikasi yang efektif itu tidak terjadi secara kebetulan, tapi perlu dipelajari dan dilatih secara sadar. Maka bab ini menjadi dasar penting untuk membangun komunikasi yang lebih baik untuk kehidupan sehari-hari.
Bab 2 berisi tentang pentingnya mengenali diri sendiri sebelum berusaha memperbaiki cara berbicara. Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda, baik dari cara menyampaikan kata, nada bicara, ataupun sikap saat berbicara. Dengan kita memahami kelebihan dan kekurangan diri dalam komunikasi, orang dapat lebih sadar dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Dalam bab ini mengajarkan bahwa komunikasi yang baik dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih jelas dan tidak mudah disalahartikan.
Bab 3 berisi tentang rasa tidak percaya diri yang muncul saat harus berbicara, terutama di depan prang lain. Dalam bab ini penulis menjelaskan bahwa gugup, takut salah, atau merasa tidak mampu itu hal wajar dan banyak dialami oleh banyak orang. Yang terpenting bukan menghilangkan rasa takut sepenuhnya, tetapi kita belajar mengelolanya. Melalui latihan, persiapan, dan keberanian untuk mencoba maka rasa percaya diri akan tumbuh perlahan-lahan. Dalam bab ini mengingatkan bahwa semua orang bisa belajar berbicara dengan lebih baik asal mau berproses.
Bab 4 berisi tentang komunikasi tidak hanya soal kata-kata, namun juga soal sikap dan bahasa tubuh. Cara kita menatap, tersenyum, berdiri, atau menggerakkan tangan sering kali lebih jujur daripada ucapan. Nah, dalam bab ini kita sebagai pembaca diajak untuk sadar bahwa pesan akan terasa lebih meyakinkan kalau bahasa tubuh sejalan dengan apa yang dikatakan. Maka dari itu, kalau ingin orang lain benar-benar nyaman dan percaya dengan kita, ucapan dan gerakan tubuh harus sama-sama "ngomong".
Bab 5 berisi tentang komunikasi yang baik bukan cuma soal pintar bicara, tetapi juga soal mau dan mampu mendengarkan. Sering kali orang terlalu fokus ingin didengar, sampai lupa memberi ruang untuk orang lain berbicara. Dalam bab ini dijelaskan bahwa dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh, kita bisa lebih memahami maksud, perasaan, dan sudut pandang lawan bicara. Intinya kalau kita mau jadi komunikator yang baik, maka kita harus belajar menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.
Kelebihan buku ini adalah terletak pada bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami, sehingga cocok dibaca oleh siapa pun tanpa harus ada latar belakang ilmu komunikasi. Penjelasannya disampaikan dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pembaca mudah memahami isinya. Buku ini tidak memiliki kesan menggurui, melainkan mengajak pembaca untuk belajar cara komunikasi yang baik dan memperbaikinya.

Komentar
Posting Komentar