Karya : Asma Nadia Safna
(SMKN 1 BOYOLANGU)
SARMIN
◾Judul Film : Sarmin
◾Produser : Wiwin Mulyani
◾Penulis Naskah : Rasdi Sulaiman
◾Editor : Feriza Saputra
◾Illustrator Musik : Buyung Irwan Zaini
◾Sutradara : Defri Dahler
◾DOP : Mas Gunung
◾Pemain :
◽Sarmin
◽Wakijan
◽Cipto
◽Tanti
◽Ibu Sarmin (Ibu Sutini)
◽Bapak Sarmin (Pak Suratno)
◽Pak Ratno
◽Pak Timbul
*Inti Ulasan
Sarmin bercerita tentang perjuangan seorang anak untuk menggapai pendidikan yang tinggi. Kita akan mengikuti kisah Sarmin, seorang anak yang tinggal di desa. Ayahnya merupakan seorang buruh tani, ibunya seorang penjual jamu gendong.
Pekerjaan pekerjaan orang tua Sarmin tidak dapat memberikan cukup uang untuk kehidupan sehari-hari.
Mereka hidup dalam keterbatasan. Namun dalam kondisi seperti itu, Sarmin tetap bersemangat untuk sekolah di semua jenjang pendidikan.
Dalam prosesnya tumbuh kembang, Sarmin memiliki tiga orang sahabat yaitu Cipto, Wakijan, dan Tanti.
Cipto merupakan anak yang suka pamer. Sementara Wakijan merupakan orang yang tidak punya pendirian. Berbeda lagi dengan Tanti, dia merupakan gadis yang cantik, manis serta lemah lembut.
*Ulasan panjang
Film ini menceritakan seorang anak yang bernama Sarmin,ia tinggal bersama kedua orangtuanya di daerah Gunung Batu Wonogiri Jawa Tengah. Suatu pagi Sarmin mencari air di sebuah pemandian,memang di daerah sana cukup susah untuk mencari air.
*3 tahun kemudian
Sarmin masuk sekolah ia masih SMP pada saat masuk ke sekolah ia ditegur oleh salah satu gurunya karena seragam yang dia pakai tidak dimasukkan dan tidak lengkap. Sarmin mendapat hukuman dari gurunya,ia harus hormat ke bendera merah putih dengan kakinya diangkat salah satunya. Tetapi Sarmin juga menjadi bahan tertawa oleh teman-temannya karena celana yang dia pakai robek.
Sepulang sekolah Sarmin pergi ke sebuah danau untuk menenangkan dirinya karena dia merasa sedih.Lalu ada 3 temannya datang menghampiri dirinya yang berniat untuk menghibur Sarmin. Tetapi Cipto teman Sarmin dia buru-buru pulang karena Ayahnya akan pulang dari Jakarta ke Wonogiri.
Keesokan harinya Sarmin bermain gangsing bersama Wakijan dan Tanti, tiba-tiba Cipto datang dengan membawa mobil-mobilan baru yang dibelikan oleh ayahnya,dia pamer kepada ketiga temannya tersebut.
Pada malam hari ibu Sarmin menjahit celana sekolah yang robek tadi.Pada saat makan Sarmin bercerita kepada bapaknya kalau Cipto pamer punya mobil-mobilan baru yang bisa jalan sendiri menggunakan baterai.
Bapak berkata : "Makanya kamu harus sekolah yang tinggi biar pintar,kalau sudah pintar hidup di kota punya rumah,mobil bukan mobil-mobilan." Ilmu itu sangat penting kalau kepingin bisa sukses.
Ketika Sarmin sedang belajar,bapaknya sedang dipijitin sama ibunya karena masuk angin.
Tetapi dalam belajar Sarmin terlihat gundah, setelah ditanya oleh bapaknya ternyata dia ingin beli tas baru karena tas yang lama sudah tidak cukup lagi.Bapak Sarmin juga memberikan syarat agar dia dibelikan tas yang pertama,Sarmin harus bisa membuat jamu karena jamu itu melambangkan kehidupan.Yang kedua Sarmin harus menjadi anak yang pintar.Dan Sarmin pun setuju.
Keesokan pagi di sekolah,saat pelajaran di kelas Sarmin dipanggil gurunya untuk ke kantor, ternyata ada kabar duka dari Bapak Sarmin bahwasanya bapak Sarmin meninggal dunia karena kecelakaan di kota.Ibu dan Sarmin menangis dan sedih.Tetapi mereka harus sabar dan tabah.Pesan ibu ke Sarmin "Sekarang tugasmu,untuk melanjutkan cita-cita Bapak".
Setelah kejadian tersebut Sarmin sering kali berdiam diri,dia pergi ke danau sambil menatap kearah depan.Lalu ketiga teman Sarmin datang menghampiri mencoba untuk menghibur Sarmin.
Setelah di rumah ibu menyuruh Sarmin berjanji agar Sarmin tetap melanjutkan sekolah besok.Dia pun berkata iya kepada ibunya. Sepulangnya sekolah Sarmin ditawari oleh salah satu tetangganya untuk mengurus dan menjaga kambing,karena yang punya akan pergi ke kota.Dan hasil dari mengurus kambing akan dibagi dua.Sebelum itu dia harus ijin terlebih dahulu kepada ibunya.
Sesampainya di rumah Sarmin disuruh mengantarkan jamu pesanan Pak Timbul ayah Cipto, tetapi saat dijalan dia bertemu dengan Cipto yang pamer sepeda barunya.Lalu Cipto membonceng Sarmin,disisi lain mereka bertemu Tanti yang sedang berjalan,Cipto juga pamer sepeda kepada Tanti.Cipto mengajak Tanti pergi ke danau sedangkan Sarmin disuruh menjemput Wakijan dahulu lalu pergi ke danau.
Sesampainya di danau...
Cipto bertanya : "Kira kira kita nanti satu SMA?". Tanti menjawab : "Sepertinya begitu kalau ke Solo kejauhan". "Bagaimana denganmu Min?,Tanti bertanya ke Sarmin. Sarmin menjawab : " Aku juga ingin melanjutkan ke SMA.Ibuku bilang aku sudah didaftarkan oleh pak Totok". "Bagaimana denganmu Jan?" Tanti bertanya ke Wakijan. Wakijan menjawab : " Sebenarnya aku juga ingin melanjutkan ke SMA tetapi aku harus membantu bapakku.Adikku juga banyak,biaya yang dikeluarkan banyak".
Tiba-tiba saja Wakijan langsung merebut jamu yang dibawa Sarmin,padahal jamu itu adalah pesanan Ayah Cipto.Wakijan seperti itu mungkin karena dia merasa kesal.
Sepulang dari danau Sarmin datang ke rumah Pak Ranto tetangganya,dia menyampaikan bahwa dirinya bisa mengurus dan merawat kambing milik Pak Ranto,dia sudah mendapatkan ijin dari ibunya. Selesai mengurus kambing Sarmin pulang karena sudah malam ibunya sudah tidur dikamar mungkin karena kecapekan bekerja.Sarmin pun makan dengan makanan yang ada di meja,lalu ibu menghampirinya.
Keesokan harinya ibu pergi ke pasar dan Sarmin disuruh langsung pergi ke sekolah.Sebelum itu Sarmin pergi menjual jagung terlebih dahulu. Setelah pulang sekolah dia pergi melihat kambing milih Pak Ratno dan membersihkan serta memberikan makan kambing tersebut. Setelah beberapa bulan kemudian Pak Ratno sudah pulang dari kota,kambing kambing yang di urus Sarmin sudah besar dan akhirnya dijual. Sarmin
mendapatkan bagian uang dan 1 kambing. Besoknya pun Sarmin pun membawa kambing yang di beri Pak Ratno pulang.
* 3 tahun kemudian
Sarmin menjadi pemuda yang tampan. Dia sudah masuk SMA di sebuah sekolah disana.
(Rumah Cipto)
Ketika ibu Cipto keluar rumah dia melihat Cipto yang sedang memperbaiki motor Vespa nya karena rusak. Cipto sebelum berangkat sekolah meminta uang kepada ibunya karena uang yang kemarin dikasih sudah habis untuk beli bensin dan makan di warung. Ibunya juga bilang kalau jualan bakso Ayahnya di Jakarta lagi sepi.
Sebelum berangkat Cipto menjemput Tanti,tetapi sebenarnya Tanti tidak mau berangkat bareng Cipto. Tetapi Cipto memaksa akhirnya Tanti pun mau. Diperjalanan menuju sekolah mereka bertemu Sarmin yang juga mau berangkat sekolah,dia naik sepeda.
Setelah beberapa bulan kemudian, kambing milik Sarmin pun besar,kambing tersebut dijual dan uangnya untuk biaya Sarmin kuliah di kota. Sebelum berangkat Sarmin ketemu dahulu dengan Cipto dan Wakijan.
Di malam hari Sarmin menyiapkan baju ke dalam tas,ibunya membelikan sebuah celana baru.
Ibu berkata : " Ingatlah pesan ayahmu,jadilah orang baik,pintar tapi tidak sok pintar." Disana nanti bertemu teman lama bapak.
Keesokan paginya Sarmin pergi ke kota dengan naik pickup. Dari sisi lain Tanti melihat Sarmin yang akan pergi ke kota,Tanti merasa sedih.
Sesampainya di kota,Sarmin datang ke rumah pak Wukir. Sarmin dapat alamat pak Wukir dari ibunya saat di rumah kemarin.
Keesokannya Sarmin sudah mulai masuk kuliah.
(Di desa)
Tanti pergi ke rumah ibu Tini dengan membawa makanan,akan tetapi ibu Tini tidak membukakan pintu ternyata dia kurang enak badan. Ibu Tini berpesan kepada Tanti agar tidak memberi tahu Sarmin bahwa dirinya sedang Sakit.
(Dikota Sarmin teringat ibunya)
Sarmin dan pak Wukir mengobrol tentang kios yang tidak dipakai,dia menawarkan kiosnya agar digunakan oleh Sarmin.
Keesokan hari tiba-tiba Tanti datang ke kampus Sarmin di kota,dia kesana untuk memberikan kabar kalau ibunya sedang sakit. Sore itu Sarmin dan Tanti pun bergegas pulang ke desa. Mereka sampai di desa pada malah hari,Sarmin langsung menghampiri ibunya di kamar.
Sarmin bercerita pada ibunya kalau dia disuruh menggunakan kios milik pak Wukir,disana Sarmin ingin berjualan jamu tapi Sarmin masih bingung,karena menjaga toko juga memerlukan waktu antara dia jualan dan kuliah. Ibu Sarmin menyuruh Tanti yang menjaga dan menjual jamunya. Tetapi Tanti meminta ijin dahulu kepada ibunya.
Akhirnya Sarmin dan Tanti pergi ke kota lagi, mereka harus mengelola toko jamu itu dengan profesional jangan semuanya sendiri. Pak Wurki mengucapkan selamat untuk Sarmin sebagai calon pengusaha jamu dan sebagai calon sarjana. Sarmin dan Tanti pun mulai mengelola toko jamunya.
Tiba-tiba saja di kampus Cipto menghampiri Sarmin di kamar mandi, Cipto salah paham sama Sarmin karena mengajak Tanti untuk berjualan jamu disana padahal Tanti disitu atas kemauannya sendiri. Cipto jadi membenci Sarmin, sampai di rumah Sarmin memikirkan kata-kata Cipto tadi sampai dia gelisah.
Cipto pun datang menghampiri Tanti di toko jamu dia butuh penjelasan mengapa Tanti selalu membantu Sarmin.
Pada suatu hari Pak Wukir mengajak Sarmin ke pabriknya. Pak Wukir juga meminta Sarmin untuk mengelola pabriknya. Pak Wukir ingin Sarmin jadi bagian dalam pabriknya. Tetapi Sarmin masih bimbang karena mengurus pabrik tidak mudah dan harus mempunyai pengalaman.
Keesokan harinya Pak Wukir dan Sarmin ke pabrik, Sarmin memberi saran ke Pak Wukir untuk mengambil ataupun membeli bahan baku tidak dari daerah lain tetapi dari masyarakat sekitar sana memberdayakan menanam pohon jamu.
Saat hujan-hujan Wakijan pergi ke rumah Cipto untuk pamit kalau dirinya mau pergi ke kota bekerja di pabrik Sarmin. Tetapi Cipto malah marah-marah tidak jelas. Ibu Cipto mengingatkan agar Cipto sekolah yang benar dulu.
Keesokannya, akhirnya Cipto berubah pikiran dia mau membantu Sarmin mengirimkan jamu-jamunya lagi. Akhirnya bersahabatan mereka berempat kembali lagi seperti dulu.
Komentar
Posting Komentar